![]() |
| Gambar ilustrasi "Investasi dengan Keterbukaan Yang Berdaulat" Ist. Indonesia Terbit |
OPINI, Indonesia Terbit – Menarik investor asing tak cukup hanya dengan membuka pintu lebar dan menyambut dengan ramah. Kuncinya ada pada cara mengundang. Yakni, dengan senyum diplomatis namun tegas.
“Silakan masuk, tapi silakan bekerja untuk Indonesia dengan aturan main yang jelas, berdaulat, dan tidak bisa digoyang”
Formula itu sederhana: hilirisasi, debottlenecking, dan proteksi pasar domestik. Paket lengkap yang membuat rupiah menguat bukan karena kepiawaian meminjam atau intervensi, melainkan karena cadangan devisa tumbuh alami dari hasil olahan sendiri. Bukan lagi jual bijih dan kayu mentah seperti pedagang kelas kaki lima.
Dulu Indonesia hanya menjadi “tukang ekspor bahan baku”. Kini saatnya berubah menjadi tuan rumah, pabrik yang elegan, mengolah kekayaan sendiri di dalam negeri.
Rakyat mendapat lapangan kerja dan kesejahteraan, pengusaha mendapat keuntungan yang terhormat, dan bangsa mendapatkan kedaulatan yang bukan sekadar jargon
Arah ini selaras dengan kebijakan pemerintah saat ini. Catatan pentingnya hanya satu:
eksekusi harus konsisten, bersih, dan tanpa kebocoran. Baru kemudian bisa menjadi kerja sama 'win-win' yang berdaulat dan berkelas.
Aturan main yang berdaulat bukanlah pintu tertutup. Ia adalah pintu terbuka lebar dengan penjaga yang sopan namun tegas: “Silakan masuk dan berinvestasi, tapi main sesuai aturan rumah.”
Intinya sederhana:
1. Hilirisasi harga mati. Jangan bawa pulang bahan mentah, olah dulu di sini.
2. Perkuat TKDN dan transfer teknologi. Semakin banyak tenaga dan otak lokal yang terlibat, semakin dipermudah.
3. Jaga sektor strategis. Kemitraan dengan pihak nasional wajib dilakukan.
4. Parkir devisa ekspor di bank dalam negeri
5. Pangkas birokrasi, tapi jangan biarkan aturan digoyang seenaknya
Indonesia tak lagi ingin jadi supplier bijih murah. Kita ingin menjadi tuan rumah pabrik yang elegan. Investor boleh kaya, asal Indonesia juga semakin berdaulat dan rakyat ikut sejahtera. Elegan di permukaan, tegas di substansi. Itulah keterbukaan yang berdaulat.
Kontributor : Yudha
