![]() |
| Foto tawa simpanse yang sedang bercanda, Ist. Indonesia Terbit |
Yogyakarta, Indonesia Terbit – Tawa ternyata bukan eksklusif milik manusia. Penelitian terbaru menunjukkan orangutan dan simpanse juga menggunakan tawa sebagai alat komunikasi sosial yang kompleks, dengan makna berbeda tergantung hierarki, usia, dan jenis kelamin.
Temuan ini memperkuat dugaan bahwa ekspresi wajah manusia berakar dari leluhur bersama kera besar belasan juta tahun lalu.
Laporan penelitian berjudul _“Towards the complexity of laugh communication in great apes: exact facial replications in laugh faces of orangutans and chimpanzees”_ (2026) diterbitkan di jurnal _Scientific Reports_.
Tim peneliti mengamati perilaku 96 individu dari empat kelompok orangutan di Pusat Rehabilitasi Orangutan Sepilok, Malaysia, dan empat kelompok simpanse di Suaka Margasatwa Chimfunshi, Zambia.
Meniru Wajah, Bangun Kepercayaan
Para peneliti menguji kemampuan orangutan dan simpanse menirukan wajah tertawa secara spontan dalam waktu di bawah tiga detik. Replikasi yang tepat dianggap tanda kecerdasan sosial tinggi karena membantu individu selaras secara emosional dan memprediksi perilaku lawan main.
“Studi kami mengungkapkan bahwa orangutan dan simpanse menunjukkan replikasi wajah yang tepat untuk wajah tertawa dengan gigi atas tidak terbuka, yaitu jenis varian yang paling tidak terkait dengan permainan kasar atau berisiko,” tulis Diane A. Austry, pakar perilaku primata dari University of Portsmouth dan Durham University, Inggris.
Hasilnya, baik orangutan maupun simpanse mampu melakukan replikasi wajah secara spontan. Jika satu kera menunjukkan wajah tertawa tanpa memperlihatkan gigi atas, lawan mainnya cenderung membalas dengan varian yang sama persis.
Pada orangutan yang soliter, replikasi ini membantu membangun kepercayaan instan dan memperpanjang durasi bermain.
Tawa sebagai Penanda Hierarki
Berbeda dengan orangutan, simpanse sangat selektif. Mereka menghindari meniru wajah tertawa yang memperlihatkan gigi atas saat berhadapan dengan individu dominan.
“Tawa menjadi salah satu bentuk penghormatan,” tulis laporan itu. Replikasi yang tepat pada simpanse juga berkorelasi dengan keberlangsungan interaksi sosial.
“Temuan ini menyimpulkan kesinambungan evolusi dari replikasi wajah yang tepat di seluruh kera besar dan manusia. Wajah tertawa kera leluhur pasti sudah kompleks dalam bentuk dan fungsi 10–16 juta tahun lalu, dan kemudian dalam garis keturunan hominin menjadi alat komunikasi sosial sehari-hari yang lebih efektif,” jelas Austry.
Variasi Tawa Sesuai Usia dan Jenis Kelamin
Penelitian lain yang dipublikasikan _Scientific Reports_ (2024) berjudul _“Orangutans and chimpanzees produce morphologically varied laugh faces in response to the age and sex of their social partners”_ memperkuat temuan tersebut.
Tim yang dipimpin Fabio Crepaldi dari University of Portsmouth mengamati lebih dari 600 ekspresi wajah dari 31 orangutan dan simpanse.
Hasilnya, orangutan mengekspos gigi atas dan menarik sudut mulut ke belakang ketika berhadapan dengan individu yang lebih muda dan betina.
Sementara simpanse menunjukkan paparan gigi atas dan bawah lebih sering saat berinteraksi dengan individu yang lebih kuat. Namun saat meniru, simpanse justru menutup gigi atas sebagai bentuk kepatuhan.
“Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan manusia untuk memodifikasi wajah tertawa yang tergantung pada karakteristik pasangan sosial kemungkinan besar telah berevolusi dari sifat-sifat yang sudah ada sebelumnya, setidaknya kembali ke nenek moyang terakhir dari kera besar saat ini, termasuk manusia,” tulis Crepaldi.
Bahasa Purba Belasan Juta Tahun
Simpanse berbagi DNA dengan manusia lebih dari 98 persen dan hidup dalam kelompok sosial hirarkis. Orangutan berbagi DNA sekitar 97 persen dan cenderung penyendiri. Mempelajari keduanya membuka tabir perilaku leluhur manusia.
Kedua studi menyimpulkan senyum dan tawa manusia hari ini bukan reaksi spontan semata, melainkan warisan evolusi.
“Senyum dan tawa adalah bahasa purba yang menghubungkan kera besar selama belasan juta tahun, sebelum kata-kata ditemukan. Warisan evolusi ini bahkan masih kita pakai hingga kini untuk mencairkan suasana dan membangun hubungan yang lebih erat dan empatik,” tulis laporan tersebut.
Ist. Indonesia Terbit
